Rumah Inggit Garnasih: Arti Nama Inggit dan Kisah Cintanya dengan Soekarno

Facebooktwitteryoutubeinstagramby feather

Soekarno sebagai proklamator sudah selesai. Namun, mengulik kisah cintanya seperti tidak berujung. Kali ini, saya berkunjung ke Rumah Inggit Garnasih di Bandung, sekaligus mendengar bagaimana peran istri kedua Soekarno itu dalam sejarah bangsa Indonesia.

Pada Kamis, 6 April 2023, saya menjejak kaki di halaman rumah yang beralamatkan Jalan Ciateul No.8 Bandung, Jawa Barat. Namun, sejak November 1997 Jalan Ciateul berganti nama menjadi Jalan Inggit Garnasih. Bertepatan dengan pemberian Tanda Kehormatan ‘Bintang Mahaputera Utama’ kepada Inggit Ganarsih pada tanggal 10 November 1997.

Baca Juga: Wisata Sejarah Fort San Pedro Filipina

Bandung hari itu begitu terik dan warganya sibuk dengan ragam aktivitas. Rasa itu langsung sirna saat masuk ke rumah Inggit. Hawa sejuk begitu dominan di rumah bergaya Belanda itu. Seakan ranting rindang pepohanan melindungi siapa saja yang datang dari pancaran sinar matahari. 

Berdasarkan keterangan guide, Rumah Inggit punya 5 ruang dengan luas total 170 meter persegi. Awalnya berbentuk rumah panggung. Di depan ada ruang tamu. Rumah yang dihuni pada tahun 1926 sampai pertengahan 1934 itu, menjadi saksi bisu pertemuan para pelopor kemerdekaan seperti Suyudi, Agus Salim, Ki Hajar Dewantoro, HOS Tjokroaminoto, Kyai Haji Mas Mansur, Sartono, Hatta, Moh. Yamin, Ali Sastro, Asmara Hadi, Ibu Trimurti, Otto Iskandardinata, Dr. Soetomo, M.H. Thamrin, Abdoel Muis, Sosro Kartono (kakak dari Ibu Kartini), dan masih banyak lainnya.

Sebelahnya, ada ruang baca yang biasa dipakai Inggit maupun Soekarno. Ruang ketiga dipakai untuk makan bersama. Berikutnya adalah ruangan tempat Inggit menyimpan bedak dan jamu hasil olahannya. Di ruangan itu pun kini terdapat dua replika batu besar yang digunakan Inggit untuk membuat bedak dan jamu saat itu. Ruang terakhir, yang kelima, menjadi tempat tidurnya Inggit dengan Soekarno.  

Kalau kita pergi sekarang, ada banyak foto yang dipajang di setiap dinding ruangan. Pengunjung bisa merasakan jejak hidup Inggit, perjuangannya, rasa cintanya, kelembutan hatinya, dan sedikit merasakan kesepian dirinya yang tidak pernah membunuh jiwanya yang besar. Foto bersejarah yang fenomenah adalah bagaimana dirinya bertemu dengan Fatmawati, istri ketiga Soekarno.

Kisah Cinta

Kisah hidup Inggit Garnasih menjadi roh di dalam rumah ini, menjadi warisan berharga untuk generasi sekarang. Menurut catatan museumindonesia.com, Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, 17 Februari 1888 dari pasangan Bapak Ardipan dan Ibu Amsi.

Pasangan tersebut memberi nama Garnasih, tanpa Inggit. Dalam perjalanan waktu, Garnasih menjadi gadis cantik yang menarik perhatian banyak pria. Bahkan ada joke, “Jika mendapat senyum Garnasih, seperti mendapat uang seringgit.” Di masa itu, satu ringgit sama dengan 2,5 gulden Belanda yang nilainya sangat tinggi. Bermula dari situlah, Garnasih kerap disebut sebagai Inggit Garnasih. 

Inggit menikah di usia 12 tahun. Pada tahun 1900 Inggit menikah dengan Nata Atmadja yang menyandang jabatan sebagai patih pada Kantor Residen Belanda. Sayang, usia pernikahan mereka tidak lama.

Lalu, Inggit dilamar oleh H. Sanoesi seorang pedagang kaya dan sukses. Selain itu, Sanoesi juga tokoh Sarekat Islam Jawa Barat dan menjadi salah satu kepercayaan H.O.S. Tjokroaminoto, salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam.

Di lain pihak, Soekarno yang sedang menempuh pendidikan menengah atas Hogere Burger School (HBS) Surabaya, ngekos di rumah Tjokroaminoto. Soekemi Sosrodihardjo, ayah Soekarno, adalah teman dekat Tjokroaminoto. Soekarno menjadi anak didik Tjokroaminoto selama 6 tahun.

Baca Juga: Catatan Sejarah Klenteng Tertua Di Jawa Justru Ada Di Belanda

Ada satu kesempatan, Soekarno merasa perlu menikahi anak Tjokroaminoto yang bernama Siti Oetari. Pernikahan yang tidak sepenuhnya didasarkan pada cinta itu terjadi pada tahun 1921 di Surabaya. Setelah keduanya menikah, Soekarno merasa tidak cocok dengan Oetari karena sifatnya yang masih kekanak-kanakan. Ia pun pindah dari Surabaya ke Bandung untuk kuliah di THS (sekarang ITB) dan menceraikan Oetari yang saat itu berusia 18 tahun.

Di Bandung, Soekarno tinggal di rumah Sanoesi atas rekomendasi Tjokroaminoto. Sanoesi sudah menikah dan tinggal bersama dengan Inggit. Cinta memang misteri, apalagi cinta yang ada di dalam diri Soekarno. Dalam untaian waktu, ada cinta yang berbalas antara Soekarno dan Inggit.

Singkat cerita, atas dasar keiklasan dan kekeluargaan, Sanoesi menyerahkan istrinya untuk dipersunting Soekarno. Perbedaan usia keduanya menjadi sorotan. Mereka menikah pada tanggal 24 Maret 1923. Dalam surat nikah dicantumkan usia Soekarno yang baru 22 tahun itu menjadi 24 tahun, sedangkan usia Inggit diturunkan satu tahun menjadi 35 tahun.

Inggit selalu menemani Soekarno dalam cinta dan kesetiaan saat beberapa kali masuk dan keluar penjara di Bandung. Keluar dari penjara, kembali Soekarno diasingkan ke Ende, NTT dengan membawa Inggit sekeluarga. Dalam pengasingan, ibu Soekarno meninggal pada Oktober 1935 dan Soekarno sendiri menderita malaria. Atas desakan Husni Thamrin, maka pada tahun 1938 Pemerintah Belanda memindahkan Soekarno dan keluarganya ke Bengkulu.

Saat di Bengkulu, Soekarno mendapat kunjungan dari Hassan Din yang datang bersama istri dan anak perempuannya, Fatma. Hassan Din adalah seorang pengusaha dan tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Maksud dari kedatangan Hassan adalah meminta Soekarno bisa mengajar di Muhammadiyah sekaligus mendorong Fatmwa untuk bersekolah di R.K. Vakschool.

Oleh Soekarno, nama Fatwa diubah menjadi Fatmawati. Inggit juga menerima Fatmawati seperti anaknya sendiri. Lagi-lagi, cinta punya logikanya sendiri. Soekarno tertarik pada Fatmawati dan menyatakan perasaannya itu pada Inggit. Pada waktu itu sebenarnya tidak terbersit dalam pikiran Soekarno untuk menceraikan Inggit yang setia mendampinginya dalam perjuangan selama 20 tahun. Tetapi Inggit tidak mau dimadu.

Inggit tidak berhasil menyelamatkan kemelut rumah tangganya, akhirnya memutuskan untuk merelakan Soekarno menikah dengan Fatmawai. Sepulangnya dari Bengkulu, Inggit kembali ke Bandung. Pada tanggal 29 Februari 1942, Inggit resmi bercerai dari Soekarno, yang disaksikan oleh Kyai Haji Mas Mansoer. Surat cerai diserahkan oleh Soekarno pada Inggit yang diwakili oleh H. Sanoesi.

Sejak itu selesailah tugas Inggit menghantar Soekarno sebagai pemimpin dan Bapak Bangsa menuju gerbang kemerdekaan Indonesia. Perjalanan hidup Inggit selanjutnya berlangsung dalam kesendirian dan berusaha menghidupkan dirinya dengan membuat bedak dan jamu.

Di masa menjadi Presiden RI, Soekarno pernah mengunjungi Inggit Garnasih di rumahnya Jalan Ciateul No. 8 Bandung, setelah mereka berpisah kurang lebih 20 tahun. Soekarno meminta maaf kepada Inggit atas segala kesalahannya yang telah menyakiti hatinya.

Pada waktu itu Inggit menjawab, “Tidak usah diminta Ngkus (panggilan Inggit ke Soekarno), sudah lama Nggit memaafkan Ngkus. Ngkus pimpinlah negara dan rakyat dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu.” Kunjungan kedua tahun 1960, Soekarno menjenguk Inggit yang sedang sakit karena kekurangan vitamin.

Mendapat kabar wafatnya Soekarno 21 Juni 1970, Inggit segera berangkat dari Bandung ke Jakarta dengan diantar anaknya (Ratma Juami). Dengan kondisi tubuh yang sudah renta dan perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, tetapi Inggit Garnasih tetap berangkat.

Ketika melihat jenazah Soekarno terbaring di dalam peti, terdengar suara lembutnya dan sayu sambil mengucapkan, “Ngkus, geuning Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun (Ngkus, kiranya Ngkus mendahului, Nggit mendoakan.”

Di saat menjelang akhir hidupnya karena usia lanjut, Inggit Garnasih menunjukkan dirinya seorang wanita yang berbudi luhur dan berjiwa besar. Ia menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Fatmawati yang belum pernah ia temui. Sebelumnya, dia sudah sering bertemu dengan istri Soekarno yang lain seperti Hartini dan Ariyati.

Meninggal dalam Damai

Atas prakarsa Ali Sadikin, keinginan Inggit terpenuhi. Pada tanggal 7 Februari 1980 Inggit bertemu dengan Fatmawati. Pertemuan itu sangat mengharukan, keduanya saling berpelukan. Dengan menangis Fatmawati meminta maaf. Dengan ketulusan dan kebesaran jiwanya Inggit Garnasih memaafkan.

Tiga bulan kemudian, Inggit meninggal dunia pada tanggal 13 April 1984 pada usia 96 tahun. Dia dimakamkan di Pemakaman Umum PORIB, tepatnya di Jalan Makam Caringin, Kopo, Bandung.

Begitu besar peran Inggit Garnasih sehingga pemerintah mengganjar penghargaan berupa Tanda Kehormatan ‘Satyalantjana Perintis Kemerdekaan’, yang dianugerahkan pada tanggal 17 Agustus 1961 ketika beliau masih hidup.

Tanda Kehormatan ‘Bintang Mahaputera Utama’ berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 073/TK/1997 tanggal 11 Agustus 1997, yang penyerahannya dilaksanakan pada tanggal 10 November 1997 di Istana Negara dan diterima oleh ahli warisnya yaitu Ibu Ratna Juami.

Sumber: Brosur ‘Rumah Bersejarah Inggit Garnasih’. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Bandung

Facebooktwitterby feather
wawan
Tanpa rokok, kopi saya menenteramkan nalar dan hati. Sembari terus menggulat di bidang komunikasi. Dulu menulis, lalu belajar fotografi dan kini bermain dengan videografi. Semua dijalani karena panggilan dan semangat berbagi. Terima kasih untuk atensinya, Tuhan memberkati.
https://onetimes.fransalchemist.com

Leave a Reply

Top