Banyak hal menarik dari sosok Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Tidak hanya hidup dan karyanya, makamnya pun menjadi magnet banyak orang untuk mengenalnya lebih jauh.
Saya berkesempatan berziarah ke makam suami Siti Rahmiati Hatta itu. Berbeda dengan banyak tokoh perjuangan kemerdekaan yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Hatta dalam wasiatnya memilih untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum, yakni TPU Tanah Kusir.
Baca Juga: Wisata Sejarah Fort San Pedro Filipina
TPU Tanah Kusir terletak di Jalan Bintaro Raya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Jika tidak biasa lewat jalan sini, area pemakaman tidak begitu terlihat. Bahkan Makam Bung Hatta yang berbentuk Rumah Gadang yang berada di depan TPU juga tampil tidak mencolok. Hal ini tak terlepas dari lokasi makam yang lebih rendah ketimbang jalan dan banyak pohon merindang di pinggir jalan.
Hatta tidak sekadar Proklamator tetapi juga tokoh koperasi dan perumahan. Sebagai seorang ahli ekonomi, Mohammad Hatta yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat 11 Agustus 1902, mendorong gerakan koperasi di Indonesia.Berkat jasa-jasa dan pemikirannya, pada saat Kongres Koperasi Indonesia di Bandung, Jawa Barat tanggal 17 Juli 1953, Mohammad Hatta diberi gelar Bapak Koperasi Indonesia.
Salah satu momen penting di Hari Koperasi di tahun 1951, adalah saat Hatta memberikan pidato di RRI yang yang penggalannya berbunyi, “Perekonomian sebagai usaha bersama dengan berdasarkan kekeluargaan adalah koperasi, karena koperasilah yang menyatakan kerja sama antara mereka yang berusaha sebagai suatu keluarga. Makmur koperasinya, makmurlah hidup mereka bersama, rusak koperasinya, rusaklah hidup mereka bersama.”
Bung Hatta juga menjadi salah satu tokoh penting yang sangat peduli dengan perkembangan perumahan di Indonesia. Pada Kongres Perumahan Rakyat Sehat di Bandung pada tanggal 25 Agustus 1950, Hatta menegaskan bahwa “Cita-cita untuk terselenggaranya kebutuhan perumahan rakyat bukan mustahil apabila kita sungguh-sungguh mau dengan penuh kepercayaan, semua pasti bisa.”
Baca Juga: Catatan Sejarah Klenteng Tertua Di Jawa Justru Ada Di Belanda
Pelaksanaan Kongres Perumahan Rakyat tersebut menjadi dasar atas penyelenggaraan Peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) setiap tahunnya. Hal itu selaras dengan Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 46/KPTS/M/2008 tanggal 6 Agustus 2008 tentang Hari Perumahan Nasional.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai saah satu pemangku kepentingan bidang perumahan di Indonesia secara rutin berziarah ke Makam Bung Hatta. Ziarah ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan dari peringatan Hapernas yang diperingati setiap tanggal 25 Agustus. Di kesempatan inilah, di tahun 2022, saya berkesempatan turut melakukan ziarah makam.
Sosok Bung Hatta
Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia menikahi Siti Rahmiati yang bernama asli Rahmi Rachim di usia 43 tahun, tepatnya di Megamendung, Bogor pada tanggal 18 November 1945. Siti sendiri lahir di Bandung, 16 Februari 1926. Dari pernikahan tersebut lahir 3 orang puteri, yakni Meutia Hatta, Gemala Hatta, Halida Hatta.
Hatta wafat pada 14 Maret 1980. Penyanyi dan pencipta lagu Iwan Fals mengabadikan kematian Hatta lewat lagunya yang melegenda dengan judul “Bung Hatta.” Ia tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) dan memilih di TPU supaya berada di tengah-tengah rakyat yang ia perjuangkan. Arah Barat dari makam Bung Hatta terdapat makam khusus Kristiani, di Timur ada makam Islam dan Selatan ada makam khusus orang Buddha.

Kompleks Makam Bung Hatta sekitar 3 hektar dan diresmikan pada 12 Agustus 1982. Ada gerbang cukup besar saat memasuki kompleks makam. Sembari jalan masuk kita disajikan rangkaian relief di tembok yang menggambarkan perjalanan hidup Hatta. Dimulai saat Hatta kecil dan remaja yang dihabiskan di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Kemudian saat dia menjalani studi di Nederland Handels-Hogeschool, Rotterdam. Ada juga momen Hatta bergabung dengan Indische Vereeniging yang kelak menjadi Perhimpunan Indonesia. Selepas masa perjuangan, ada relief yang menunjukkan Hatta mendampingi Soekarno menjadi Proklamator, perannya dalam berbagai perundingan, saat menjadi Wakil Presiden RI, dan saat dia memilih mundur di tahun 1956.
Di bagian tembok kompleks makam Hatta, ada sejumlah gawang yang disambungkan di setiap pagar sebanyak 45 buah. Sedangkan atap gerbang yang terbuat dari sabuk kelapa terdapat 1900. Jadi kalau digabungkan menjadi 1945 yang menandakan tahun kemerdekaan Indonesia. Selain itu tiang gerbang berjumlah 17 dan atap gadangnya ada 8 yang berarti tanggal dan bulang kemerdekaan Republik Indonesia.
Ada plaza yang cukup lebar sebelum kita memasuki area makam. Untuk masuk ke dalam ada pintu masuk berbentuk Rumah Gadang. Tidak besar tetapi sangat ikonik serta menggambarkan asal Bung Hatta.
Baca Juga: Rumah Inggit Garnasih: Arti Nama Inggit Dan Kisah Cintanya Dengan Soekarno
Makam Hatta berada di dalam bangunan seperti masjid kuno dengan atap bersusun, rumah gadang Minang dengan gonjong lancip ditambah ukiran Jawa yang kaya makna filosofis. Ada tiga tangga sebelum masuk ke dalam makam itu berarti perjalanan manusia yang melewati tiga alam, yaitu, alam rahim, dunia, dan alam kubur sebelum akhirnya di akhirat.
Desain makam Pahlawan Nasional itu merupakan hasil karya Presiden Soeharto yang diwujudkan dalam gambar arsitektur di bawah pimpinan Siswono Yudohusodo. Meski sempat berseberangan politik dengan Hatta, Soeharto cukup dekat dengan keluarganya. Presiden kedua RI itu bahkan bersedia menjadi saksi bagi ketiga putri Bung Hatta, yakni Meutia Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah.
Di samping makam Hatta ada makam istrinya Siti Rahmiati Hatta yang meninggal di Jakarta, 13 April 1999 pada umur 73 tahun. Di dalam kompleks pemakaman Hatta, terdapat juga 3 makam lain yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan dirinya. Mereka yaitu mantan sekretaris pribadinya Iding Wangsa Widjaya dan istrinya Turniah.
Sebagai penutup mari kita Simak lirik lagu “Bung Hatta” yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Iwan Fals. Lagu ini dirilis pada 1981 silam dan disertakan dalam album bertajuk Sarjana Muda.
Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu satunya yang tersisa
Proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu
Terbayang baktimu terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu
Terbayang baktimu terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu