Mendekap rindu dengan pergi ke Yogyakarta punya kesan khusus bagi banyak keluarga. Jika masih ada keluarga yang bingung mau berwisata ke mana, mungkin Agrowisata Bhumi Merapi menjadi jawabannya.
Agrowisata Bhumi Merapi yang terletak di Jl. Kaliurang Km 20 itu merupakan destinasi yang memadukan spot foto dan wisata edukasi. Siapa pun yang datang tidak sekadar foto cantik atau foto ganteng untuk bahan mejeng di media sosial. Mereka juga ditawarkan pengetahuan untuk mengenal tanaman dan hewan melalui pengalaman perjumpaan.

Baca Juga: Mengunjungi Museum Yang Pemiliknya Membuat Istana Presiden Di IKN
Tempat wisata senyatanya sudah ada sejak 2015. Namun, tampaknya pengelola terus melakukan pengembangan untuk mengakomodasi kebutuhan wisatawan. Saat kami datang di Oktober 2021, ada area terbilang baru untuk spot foto. Dan terus berkembang sampai sekarang.
Areanya memang luas. Parkir yang kerap menjadi masalah, tampaknya bisa diatasi pengelola. Bukan hanya motor dan mobil, kendaraan Elf dan bus bisa parkir di sini. Bahkan ada pintu masuk khusus untuk rombongan. Jika belum berubah, ini tarif parkirnya: Rp3.000 (motor); Rp5.000 (mobil); Rp10.000 (Elf); Mobil = Rp15.000 (Elf long/medium bus); Rp25.000 (bis besar).

Bagi mereka yang hanya punya waktu terbatas di Yogyakarta, gak perlu khawatir. Agrowisata Bhumi Merapi buka setiap hari, mulai jam 09.00 sampai 17.00. Untuk masuk, kita dikenakan biaya Rp30.000. jika bawa kamera, ada tambahan Rp50.000. Rasanya pakai HP sudah cukup.
Ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan di sini. Salah satu daya tarik yang diunggulkan oleh pihak pengelola adalah berinteraksi dengan hewan. Ada beberapa hewan yang bisa diajak beraktivitas bersama. Misalnya, memberi makan kambing, kelinci dan rusa dengan biaya masing-masing Rp5.000 untuk membeli makanannya. Juga ada beberapa jenis hewan lainnya seperti, ular, burung merak, kura-kura, dan banyak lagi. Jika ingin berkuda juga bisa, Rp20.000 untuk 1 kali putaran.

Mau memperkenalkan anak atau keponakan dengan dunia tumbuhan juga bisa. Ada aktivitas bercocok tanam, baik secara tradisional maupun dengan metode hidroponik yang modern. Untuk orangtuanya, jika tertarik, bisa mengamati proses pembuatan kopi luwak. Di akhir wisata, kita bisa membelinya sebagai buah tangan.
Mengingat tempatnya yang luas, maka ada juga yang datang bukan untuk wisata tetapi mengadakan outbond. Sudah ada rombongan perusahaan atau institusi yang membangun soliditas di antara mereka di tempat ini. Aktivitas seru yang bisa dilakukan adalah menangkap ikan dengan biaya Rp10.000. Ikan yang berhasil ditangkap bisa dibawa pulang.

Langlang Buana
Bagi kebayakan anak-anak muda termasuk di sini keluarga muda, sudah pasti yang diincar di setiap tempat wisata adalah spot foto. Makin menarik dan unik spot fotonya maka makin virallah tempat tersebut.
Agrowisata Bhumi Merapi adalah tempat wisata yang membaca kebutuhan pasar. Di tahun 2019 pengelola membangun Langlang Buana. Sesuai namanya, pengunjung di ajak untuk merasakan berkeliling dunia.
Baca Juga: Tanpa Menginap, Kita Bisa Wisata Rusa Di Hotel Rancamaya
Saat memasuki area Langlang Buana kita seperti masuk ke sebuah lorong. Ada beberapa tema di wahana ini yang menawarkan banyak sekali spot foto yang siap menghiasi beranda media sosial kita. Tema pertama Arab Street.

Saat melewati lorong ini kita diapit oleh bangunan yang menyerupai rumah dengan warna mencolok. Ada kuning, merah, hijau, cokelat. Dari plang nama yang terpajang, kita bisa mengetahui bahwa kita sedang melewati café, factory outlet, dokter gigi, sampai tempat membeli roti dan kue.
Diujung lorong kita masuk area bertema Underground Baker Street. Baker Street adalah nama sebuah jalan di London yang terkenal gara-gara dikisahkan Sherlock Holmes tinggal di jalan ini.
Baker Street juga memiliki stasiun bawah tanah yang tiruannya ada di sini. Kita bisa berpose dengan latar belakang dinding bata ekspos dan bilik telepon yang khas Inggris.

Setelah dari Arab dan Inggris, kita diajak terbang ke Swiss. Seolah-olah saja, mengikuti imajinasi yang dibantu dengan bangunan yang tersaji. Kali ini, Swiss diwakili dengan Swiss Chalet Style, yakni rumah tradisional Swiss yang punya ciri khas di bahan baku kayunya.
Rumah tradisional ini biasanya terletak di pedesaan dan pegunungan serta mencerminkan sejarah dan budaya Swiss. Rumah ini menarik bagi wisatawan yang ingin mengalami pengalaman tinggal di dalam lingkungan alami yang indah, apalagi di banyak kawasan jalannya terbuat dari batu alam.
Setelah itu kita seperti masuk ke Eropa pada abad pertengahan. Kita seperti berada di era kerajaan lengkap dengan suasana kastil. Jika tergoda dengan totalitas foto, kita bisa menyewa kostum bergaya Eropa dengan biaya Rp20.000/jam.

Lepas dari kastil ada tema yang sangat dominan di Langlang Buana, yakni Santorini. Santorini adalah nama pulau di Yunani yang menjadi bagian dari Kepulauan Cyclades. Pulau dengan nama asli Thira ini menjadi daya tarik wisata dunia karena keindahan alamnya dan keunikan arsitekturnya yang membangun rumah tepat di tepi kaldera gunung berapi serta menghadap Laut Aegea yang indah.
Bangunan di sini sebenarnya punya model yang sederhana dengan ornamen minimalis. Bentuknya kotak, atap agak bundar, dan sedikit membentuk siku. Untuk warna, didominasi warna putih dan aksen biru. Perpaduan dua warna ini menciptakan kesan terang dan juga menjadi ciri khas rumah daerah pesisir.
Gaya bangunan inilah yang ditiru pengelola untuk membangun spot foto Santorini. Saat datang ke sini, pengunjung cukup ramai. Padahal saat itu masih pandemi COVID-19 dan cuacanya sangat panas. Namun hal itu tidak menyurutkan niat untuk berfoto sebanyak-banyaknya.

Masih juga kurang spot foto? Masih ada pojok dinding yang dilukis mural dengan tema Renaissance. Ciri seni di zaman ini adalah realistis dan natural, karena para seniman berusaha menggambarkan orang atau obyek tertentu agar sesuai dengan aslinya. Bahkan lukisan yang dibuat berdasarkan bentuk anatomis yang sesungguhnya, sehingga tampak natural. Inilah yang kita liat di spot foto terakhir di Langlang Buana.
Wajah jika semua aktivitas di Bhumi Merapi membuat kita lelah. Tidak perlu khawatir, pihak pengelola menyediakan restoran untuk melepas lelah. Ada Kamala Resto dan Coffee Shop berada di sekitar area Taman Reptil dan Rumah Burung.

Sepertinya, Agrowisata Bhumi Merapi menjadi tempat tujuan wisata yang mengakomodasi semua kegemaran anggota keluarga. Jadi, kapan ke sini? Itung-itung pemanasan sebelum kita sekeluarga keliling dunia, ya…