Judul tulisan ini sepertinya boombastis, atau kerap disebut clickbait. Saya tegaskan, inilah yang terjadi pada saya. Percaya atau tidak, saya sendiri kerap geleng-geleng melihat perubahan sikap ini. Kata "Utang" menjadi momok tersendiri bagi saya. Sudah sejak lama saya meyakini bahwa utang adalah parasit dalam keuangan saya. Ketika sudah berkeluarga, keyakinan itu semakin kuat karena keuangannya tidak lagi bersifat pribadi. Oleh karena itu, mendengar "utang" saja, saya memilih untuk menutup telinga. Dari sisi eksternal, ada banyak kisah pilu yang dialami orang karena terlilit utang. Bahkan tidak sedikit karena utang, orang bisa melakukan tindak pembunuhan atau malah mengakhiri hidupnya. Cerita utang semakin seram terdengar. Dalam perjalanan waktu, sikap saya terhadap utang semakin melunak. Pada akhirnya, utang terpaksa menjadi pilihan ketika kebutuhan pokok saya bernilai tinggi.
