Matahari terasa begitu terik. Debu beramburan disapu kendaraan melintas. Pejalan kaki semakin tersingkir, kepanasan dan menghirup berbagai polusi. Aroma kota pelabuhan semakin kental dengan kehadiran truk kontainer yang menjejal di jalanan yang padat. "Serasa di Tanjung Priok ya," gumamku dalam hati. Tapi ini bukan Priok, bukan pula di Indonesia. Ini adalah Cebu, sebuah kota di Filipina. Negara tetangga yang secara topografi memang tidak jauh berbeda dengan tanah air. Tantangan alam tersebut harus dilalui untuk mengunjungi destinasi wajib di Cebu. Tiap orang yang saya tanya, ada apa di Cebu, jawabannya sama,"Basilica del Santo Nino!" Kami, tentu masih bersama Sari, tidak memilih jalan mudah untuk pergi ke sana. Kami berangkat dari Mactan, pulau kecil di selatan Cebu, dengan menggunakan Jeepney, angkutan umum khas Filipina. Basilica Santo Nino tampak dari jalan raya,
Tag: jeepney
Nyobain Jeepney, Angkotnya Filipina yang Bebas Rokok
Debu mendebur dengan pekat tiap kali kendaraan bermotor melintas. Semakin tinggi debu itu bertebaran saat knalpot menyembur dari truk kontainer yang begitu ramai. Di bawah terik mentari, hiruk pikuk kota pelabuhan itu tampak jelas dari jendela Jeepney. Jeepney tidak ubahnya sebuah angkot di Indonesia. Namun, ada banyak yang istimewa dari kendaraan umum yang menjadi ciri khas Negara Filipina pada umumnya. Saya bersama isteri cukup beruntung mendapat kesempatan ber-Jeepney-ria di tengah perhelatan ASEAN Finance Ministers’ Investors Seminar (AFMIS) beberapa waktu lalu, di Shangri-la Mactan Resort and Spa, Lapu-Lapu City, Cebu, Filipina. Kami tinggal di Palmbeach Resort & Spa yang jaraknya hanya 1,5 Km dari Shangri-la. Untuk mondar-mandir, sebenarnya pihak panitia menyediakan mobil shuttle yang selalu siap sedia, tetapi kami kebayakan lebih memilih naik jeepney. Hanya dengan 7 peso, kira-kira Rp. 2,000 kami bisa

