Investasi kerap menjadi diksi ekonomi yang seolah mengandung strata menengah ke atas. Padahal, siapa saja bisa kok melakukan investasi. Sama seperti semua orang, dengan gaji berapapun juga bisa menabung. Lalu bagaimana dengan para pekerja freelance? “Berapapun gaji kita pasti bisa berinvestasi dan menabung,” kata Ghita Argasasmita, Founder & Financial Adivisor Integrita, dalam talkshow Investasi Mudah untuk Pasangan Muda di Marketing Gallery Apartemen Mahata Margonda, Depok, Jawa Barat, 30 November 2019. Kuncinya, sambung Ghita, menyadari uang kita. Dari kesadaran itulah lahir sikap bagaimana kita menghargai uang yang kita miliki. Uang tidak datang dengan sendirinya, tetapi hasil dari kerja keras. Jadi ke mana uang kita alokasikan harus disadari supaya kita tidak kaget sendiri, belum akhir bulan uang sudah habis dan kita tidak punya apa-apa. Ivan Resaprianto selaku Project Manager Mahata Margonda Perum
Tag: lifestyle
Menjadikan Cashback ala Milenial untuk Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan
Pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo memiliki pola yang unik, karena mengusung 2 isu sekaligus. Pertama adalah infrastruktur dan kedua milenial. Infrastruktur digenjot karena menjadi sarana kemajuan. Tanpa kita sadari, infrastruktur ini dibuat berdarah-darah demi pelaku kemajuan itu sendiri, yang tidak lain adalah kaum milenial Indonesia. Itulah mengapa, Jokowi dengan gayanya ingin merangkul kaum milenial untuk mau digerakkan maju seiring dengan pembangunan yang dilakukan pemerintah. Karena merekalah yang nantinya menjadi aktor kemajuan bangsa. Hal ini tidak lepas dari riset yang dilakukan IDN Research Institute bersama Alvara Research Center. Mereka mengungkap bahwa saat ini ada 63 juta kaum milenial dari sekitar 265 juta total penduduk Indonesia dengan usia 20 - 35 tahun. Jumlah yang cukup signifikan untuk mengubah atau menentukan masa depan Indonesia.
Mengenal Secara Sederhana, Apa Itu Kebijakan Makroprudensial
Kondisi ekonomi nasional saat ini baik, sehat, dan stabil. Namun demikian, dilihat dari kuadran ekonomi kita sedang berada di bawah. Artinya, ada pesimisme di dalam ekonomi sehingga sangat hati-hati dalam mengembangkan usaha atau menyalurkan kredit. "Menurut saya, ini saatnya LTV (loan to value) dilonggarkan untuk mendorong kredit sampai 3-4 tahun ke depan untuk mendorong perekonomian nasional," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Juda Agung, dalam kesempatan Nangkring Bersama Bank Indonesia Bertema Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta, 26 Juni 2019. Juda mengakui bahwa sejak beberapa tahun terakhir, pihaknya menyadari situasi ini dan telah mengambilkan kebijakan makroprudensial akomodatif setidaknya sampai 4 tahun ke depan. Langkah konkretnya adalah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM), melonggarkan LTV sejak 2015 setidaknya sampai 2018, meningkatkan Rasio
Dulu Takut, Sekarang Saya Ketagihan Berutang
Judul tulisan ini sepertinya boombastis, atau kerap disebut clickbait. Saya tegaskan, inilah yang terjadi pada saya. Percaya atau tidak, saya sendiri kerap geleng-geleng melihat perubahan sikap ini. Kata "Utang" menjadi momok tersendiri bagi saya. Sudah sejak lama saya meyakini bahwa utang adalah parasit dalam keuangan saya. Ketika sudah berkeluarga, keyakinan itu semakin kuat karena keuangannya tidak lagi bersifat pribadi. Oleh karena itu, mendengar "utang" saja, saya memilih untuk menutup telinga. Dari sisi eksternal, ada banyak kisah pilu yang dialami orang karena terlilit utang. Bahkan tidak sedikit karena utang, orang bisa melakukan tindak pembunuhan atau malah mengakhiri hidupnya. Cerita utang semakin seram terdengar. Dalam perjalanan waktu, sikap saya terhadap utang semakin melunak. Pada akhirnya, utang terpaksa menjadi pilihan ketika kebutuhan pokok saya bernilai tinggi.



