Jam baru menunjukkan menit ke-10 dari pukul 15. Namun cuaca sudah seperti malam. Matahari meredup dan embun mulai turun. Membuatku mengancingkan jaket dan melipat tangan di depan dada. "Dingin ya, Pak," kataku pada Hasan (57), pemandu lokal, sembari mengeluarkan asap embun dari mulutku. Baru saja menjejakkan kaki tanah Pagaralam, Propinsi Sumatera Selatan, saya yang datang bersama teman, seorang calon pastor Indri, sudah minta diantarkan ke kebon teh di lereng timur Gunung Dempo. Kala itu Januari 2011, yang sudah barang tentu, Indri sekarang sudah menjadi Pastor SCJ. Dalam perjalanan ke Pagaralam melewati Lahat, yang punya landmark Bukit Jempol yang unik. Kisah seduan teh Dempo yang coklat pekat dengan aroma khasnya membuatku ingin ke sana. Di samping kehausan akan udara sejuk dan menyehatkan bagi
