Jam baru menunjukkan menit ke-10 dari pukul 15. Namun cuaca sudah seperti malam. Matahari meredup dan embun mulai turun. Membuatku mengancingkan jaket dan melipat tangan di depan dada. "Dingin ya, Pak," kataku pada Hasan (57), pemandu lokal, sembari mengeluarkan asap embun dari mulutku. Baru saja menjejakkan kaki tanah Pagaralam, Propinsi Sumatera Selatan, saya yang datang bersama teman, seorang calon pastor Indri, sudah minta diantarkan ke kebon teh di lereng timur Gunung Dempo. Kala itu Januari 2011, yang sudah barang tentu, Indri sekarang sudah menjadi Pastor SCJ. Dalam perjalanan ke Pagaralam melewati Lahat, yang punya landmark Bukit Jempol yang unik. Kisah seduan teh Dempo yang coklat pekat dengan aroma khasnya membuatku ingin ke sana. Di samping kehausan akan udara sejuk dan menyehatkan bagi
Tag: wisatasumateraselatan
Pulo Kemaro Padukan Akulturasi dan Semangat Maritim
Angin berhembus kencang menghapus rasa panas di kulit, karena terpaan terik mentari. Debu menyeruak tiap kali kaki melangkah di pelataran Benteng Kuto Besak, yang sekaligus menjadi tepian Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Memang, sudah beberapa hari itu Palembang mengerontang ditinggal gemercik hujan. Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan. Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu. Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah

