Istilah Biodiesel B100 akan terus terasa asing jika Capres 01 tidak menyebutnya dalam sesi debat. Apalagi, B100 disebut dalam dua kali kesempatan debat. Saya pikir, bahan bakar murni dari minyak nabati ini hanya "jualan" di masa kampanye. Tetapi, hari ini, B100 itu siap untuk diujicobakan. "Ini adalah arahan Bapak Presiden, agar B100 bisa kita rebut. Ini adalah salah satu bentuk perlawanan kita untuk melawan black campaign yang dilakukan Eropa terhadap CPO kita. Dan Sekaligus mengangkat kesejahteraan petani-petani kita," kata Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP, Menteri Pertanian RI saat meluncurkan secara resmi uji coba perdana produk Biodiesel B100 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin 15 April 2019. Baca Juga: Di Tengah Debat “Unicorn,” Start Up Lokal Qlue Raih Penghargaan Internasional Menurut Arman, uji coba ini adalah
Author: wawan
Nyobain Jeepney, Angkotnya Filipina yang Bebas Rokok
Debu mendebur dengan pekat tiap kali kendaraan bermotor melintas. Semakin tinggi debu itu bertebaran saat knalpot menyembur dari truk kontainer yang begitu ramai. Di bawah terik mentari, hiruk pikuk kota pelabuhan itu tampak jelas dari jendela Jeepney. Jeepney tidak ubahnya sebuah angkot di Indonesia. Namun, ada banyak yang istimewa dari kendaraan umum yang menjadi ciri khas Negara Filipina pada umumnya. Saya bersama isteri cukup beruntung mendapat kesempatan ber-Jeepney-ria di tengah perhelatan ASEAN Finance Ministers’ Investors Seminar (AFMIS) beberapa waktu lalu, di Shangri-la Mactan Resort and Spa, Lapu-Lapu City, Cebu, Filipina. Kami tinggal di Palmbeach Resort & Spa yang jaraknya hanya 1,5 Km dari Shangri-la. Untuk mondar-mandir, sebenarnya pihak panitia menyediakan mobil shuttle yang selalu siap sedia, tetapi kami kebayakan lebih memilih naik jeepney. Hanya dengan 7 peso, kira-kira Rp. 2,000 kami bisa
Rumah Rengasdengklok, Sekali Lagi Negara Alpa!
Cuaca telah memberi tanda bahwa perjalanan tidak akan menyenangkan. Dari Jakarta mendung terus menggelanyut sampai ke daerah Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Namun, kami tetap membulatkan untuk menapak tilas peristiwa "penculikan" Soekarno - Hatta oleh sekelompok pemuda. "Maaf, Pak. Kamar Bung Karno belum bisa dimasukin," kata Djiaw Hoy Lin, saat kami baru datang. Puteri Djiauw Kie Song itu memberi isyarat bahwa ada "orang pintar" yang sedang bersemedi di dalam kamar Bapak Proklamator. Menurut penuturan Lin, rumahnya yang bersejarah itu senyatanya telah hilang tergerus aliran sungai Citarum yang alirannya berubah, pada tahun 1957. Rumah yang ada sekarang adalah rumah baru yang dibangun untuk tempat hunian dan anak-anak keturunannya. "Di tempat inilah kami menyimpan benda-benda bersejarah yang dulu digunakan oleh
Makan Marshmallow, Menikmati Sensasi Berciuman!
Panasnya Jakarta beringsut redam oleh jumantara Bandung yang merasuk tulang. Apalagi kedatangan kami di Cimahi, Lembang, Bandung disambut dengan rerintik hujan. Bekal jaket pun tidak mampu mengadaptasi tubuh yang terbiasa dengan aroma polusi Ibu Kota. Sang tuan rumah, yang kami panggil om dan tante, sadar bahwa kami butuh kehangatan. Wajah sayu juga memberi tanda lain, minta perut segera diisi. Tidak lama kemudian, om membawa makanan yang ia produksi sendiri. “Ini yang namanya marshmallow. Kalau udara seperti ini, enaknya dimakan dengan mencelupkannya ke espresso (kopi pekat dengan tingkat konsentrasi dan rasa yang kuat),” katanya. Suasana rumah om dan tante di Lembang, sekaligus tempat wisata bernama Vin's Berry Park. Sebagai penggemar kopi, timbul rasa penasaran, “Espresso dan marshmallow? Pasti menciptakan sensasi tersendiri!” saya bergumam dalam hati. Tangan kanan memegang
Kota Pagaralam, Kota yang Benar-benar Dipagari Alam
Jam baru menunjukkan menit ke-10 dari pukul 15. Namun cuaca sudah seperti malam. Matahari meredup dan embun mulai turun. Membuatku mengancingkan jaket dan melipat tangan di depan dada. "Dingin ya, Pak," kataku pada Hasan (57), pemandu lokal, sembari mengeluarkan asap embun dari mulutku. Baru saja menjejakkan kaki tanah Pagaralam, Propinsi Sumatera Selatan, saya yang datang bersama teman, seorang calon pastor Indri, sudah minta diantarkan ke kebon teh di lereng timur Gunung Dempo. Kala itu Januari 2011, yang sudah barang tentu, Indri sekarang sudah menjadi Pastor SCJ. Dalam perjalanan ke Pagaralam melewati Lahat, yang punya landmark Bukit Jempol yang unik. Kisah seduan teh Dempo yang coklat pekat dengan aroma khasnya membuatku ingin ke sana. Di samping kehausan akan udara sejuk dan menyehatkan bagi
Gua Cerme: Menyusur Sungai Bawah Tanah, Menyelami Tradisi, dan Agama
Memasuki Jala Parangtritis Yogyakarta, mendung menggelanyut. Semakin ke arah Timur, semakin terasa saja hawa hujan. Lembab. Hembusan angin gunung. Tinggal menunggu saja waktunya. Tapi, motor tetap saya pacu menuju Dusun Srunggo. Di sanalah tempat Gua Cerme berada. Benar saja, tidak lama melewati gardu selamat datang memasuki kawasan Gua Cerme, hujan turun menderu. Semakin ke atas, hantaman air dari langit semakin terasa. Saya pun tak kalah kencang memaju kendaraan sambil berharap hujan reda. Alhasih, setelah sempat kesasar saya bersama adik dan pacar sampai juga ke tujuan. Tentu dengan pakaian basah. Gua Cerme terletak di Pegunungaan Sewu, yang merupakan kawasan karst. Secara administratif, gua ini terletak di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Uniknya, pada pertengahan badan gua menjadi batas administratif Kabupaten Bantul dan Kabupaten
Pesona Gigi Kera di Pantai Siung
Mendengar Yogyakarta kita langsung tertuju pada tujuan wisata seperti Malioboro, Kraton, makanan seperti bakpia dan gudeg, serta pantainya yang terkenal yakni Parangtritis. Anehnya, selama saya 4 tahun kuliah di kota pendidikan tersebut saya tidak pernah menginjakkan kaki ke Parangtritis. Loh??? Ada tempat lain yang membuat hati saya tertambat sampai mengalahkan salah satu legenda termasyur di Yogyakarta itu. Saat sedang liburan semester di tahun 2007, saya yang saat ini sudah bekerja di Jakarta diajak oleh sepupu saya ke Pantai Siung. Kala itu, memang saya sedang hunting daerah tujuan wisata yang belum terlalu popular. Sampai akhirnya saya diajak Lino, sepupu saya itu, ke pantai yang terletak di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan Kecamatan Tepus. Belum lama ini saya berkesempatan menikmati kembali eksotisme alam yang masih perawan tersebut.
Di Gili Trawangan, Depan Belakang Sama Nikmatnya
Ketegangan mulai merasuk di hari kedua pertemuan internasional pada April 2013. Suasana Bali yang begitu selaras dengan apa yang selama ini saya dengar tidak mampu membuat rileks. Di saat jadwal longgar saya putuskan untuk melompat sejenak ke Gili Trawangan, Lombok. Kata orang gili atau pulau ini sangat eksotis dan tidak kalah dengan kemolekan Bali, tetangga dekat pulau ini. Ada banyak pilihan untuk sampai ke sana. Karena saya sedang berada di Kuta, shuttle bus menjadi transportasi alternatif yang pas dengan kantong. Hanya dengan Rp. 350 ribu saya sampai ke tujuan. Saya berangkat jam 06.30 dari Kuta dengan mobil L300 langsung menuju Pelabuhan Padangbai, lama perjalanan hanya 1 jam. Setelah menunggu beberapa saat sekitar jam 11 siang, saya menyeberang ke Pelabuhan Lembar Lombok dengan menggunakan kapal feri, tanpa membayar lagi. Perjalanan di kapal
Pulo Kemaro Padukan Akulturasi dan Semangat Maritim
Angin berhembus kencang menghapus rasa panas di kulit, karena terpaan terik mentari. Debu menyeruak tiap kali kaki melangkah di pelataran Benteng Kuto Besak, yang sekaligus menjadi tepian Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Memang, sudah beberapa hari itu Palembang mengerontang ditinggal gemercik hujan. Kami ingin pergi ke Pulo Kemaro. Sebuah tempat wisata yang cukup tersohor di Bumi Sriwijaya ini. Dengan dahi mengrenyit menahan panas, kami bertanya kepada beberapa laki-laki nelayan di bibir sungai tentang keberadaan perahu sewaan. Perahu atau penduduk setempat menyebutnya ketek, menjadi transportasi utama untuk mencapai tempat yang berupa pulau di sebelah timur Kota Palembang atau sekitar lima kilo meter sebelah hilir Jembatan Ampera itu. Naik ketek dengan mesin tempel menjadi bagian perjalan hidup yang tidak terlupakan. Sejauh ini, kami tidak pernah
Mau Ke Sawarna, Pilih Ngeteng atau Berkendara Sendiri?
Mentari menuju ke Barat dengan jingganya. Memulas langit dan bumi. Mengisi sisi relung semesta dengan membiarkan sisi lain misteri di Timur. Hati terus berdoa memekik, “Aku ingin mandi gelombang laut bersabun surya!” Jam menunjukkan pukul 17.30 saat saya masih dibonceng ojek menembus jalan bergelombang berbukit-bukit. Sepanjang jalan banyak pohon jati dan cengkeh membuat syahdu perjalanan. “Penduduk sini mata pencariannya memang berkebun. Ada juga yang bertani dan nelayan,” ujar sang ojek. Asa yang terus dijaga ditambah usaha ojek memaksimalkan laju motornya, membuat saya berkesempatan menikmati pemandangan matahari terbenam di tepi Pantai Tanjung Layar. Sebuah tempat di jajaran pantai selatan yang menyembunyikan keindahan alami, tepatnya berada di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Tidak hanya pantainya, di desa wisata ini kita pun bisa









