Mendadak mata begitu berat. Pundak lemah tak berdaya. Di ujung gedung bertingkat itu, perlahan mentari menampakkan dirinya. Kembali tubuh merasakan ketidakberdayaan. Kini kaki kanan yang tampak menyerah walau sekadar mempertahankan posisi rem. Sesaat saya menyadari, saat ini seharusnya saya mengolet dan memanjakan diri di atas kasur. Tapi nyatanya, saya berada di daerah Bekasi, Jalan Tol Capek, dan sudah berkendara di belakang kemudi selama 2 jam. Kami memutuskan untuk berlibur sejenak saat Bulan Ramadhan memasuki hari ketujuh. Sabtu subuh berangkat ke Lasem, dan kembali ke Jakarta keesokan harinya. Inilah cara kami rehat di luar waktu libur. Alasannya sederhana, yakni menghindari kemacetan dan biaya tinggi, khususnya tarif hotel dan tempat-tempat wisata. Secara umum, perjalanan darat Jakarta menuju kota yang masuk Kabupaten Rembang cukup lancar. Sebagian
Author: wawan
Cerita Batik Tiga Negeri: Pewarnaan dari 3 Kota, Seharga 2 Sapi, sampai Merah Darah Ayam
Hari semakin senja, badan terasa begitu lepek. Apalagi seharian perjalanan dari Jakarta, belum juga melepas lelah. Ditambah dengan udara kersang khas Pantura. Sisa energi yang ada, dipakai untuk menyalurkan rasa penasaran pada Batik Lasem di Tiongkok Kecil Heritage, Lasem, Jawa Tengah. Batik sendiri telah menjadi identitas asli Indonesia. Bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Yang menarik, Batik Lasem sangat kental dengan sentuhan budaya Tiongkok. Hal ini tidak mengherankan, karena menurut catatan National Geographic Indonesia, pada abad 19 sampai awal abad 20 Lasem menjadi tempat jumlah etnis Tionghoa terbesar ketiga setelah Batavia dan Semarang. Nenek moyang mereka datang dari pesisir pantai selatan Tiongkok yakni Fujian dan Guangdong. Sejarah yang dicatatkan kembali
Menjadikan Cashback ala Milenial untuk Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan
Pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo memiliki pola yang unik, karena mengusung 2 isu sekaligus. Pertama adalah infrastruktur dan kedua milenial. Infrastruktur digenjot karena menjadi sarana kemajuan. Tanpa kita sadari, infrastruktur ini dibuat berdarah-darah demi pelaku kemajuan itu sendiri, yang tidak lain adalah kaum milenial Indonesia. Itulah mengapa, Jokowi dengan gayanya ingin merangkul kaum milenial untuk mau digerakkan maju seiring dengan pembangunan yang dilakukan pemerintah. Karena merekalah yang nantinya menjadi aktor kemajuan bangsa. Hal ini tidak lepas dari riset yang dilakukan IDN Research Institute bersama Alvara Research Center. Mereka mengungkap bahwa saat ini ada 63 juta kaum milenial dari sekitar 265 juta total penduduk Indonesia dengan usia 20 - 35 tahun. Jumlah yang cukup signifikan untuk mengubah atau menentukan masa depan Indonesia.
“Enak Kalian Ada Go Food, Gak Seperti di Holland”
Kedatangan tamu kerap kami anggap sebagai berkah. Sebisa mungkin kami berikan yang terbaik. Apalagi kali ini, keluarga kami kedatangan tamu dari Negeri Belanda. Tante Grace kami memanggilnya, adik dari ibu mertua saya. Walau sudah puluhan tahun menjadi Warga Negara Belanda, tapi kecintaannya pada makanan Indonesia tidak pernah hilang. Selain suka makan, ia juga mahir dalam memasak. Khususnya masakan Indonesia. Tidak heran, tiap kali pulang ke Indonesia dengan tujuan khusus tertentu, kami sudah hafal agenda utamanya tetap menyantap makanan nusantara dan berburu kuliner Indonesia untuk dibawa ke Belanda. Kali ini, ia datang atas undangan salah satu saudara kami yang menikahkan anaknya. Selama hampir sebulan di Jakarta pada Mei 2018, sederet makanan sudah dilahap. Mulai dari asinan sayur, gado-gado, sate ayam, sate babi, sampai
Kedai Kopi Apek, Cerminan Budaya Indonesia yang Mengharamkan Terorisme
Jam masih menunjukkan pukul 6.30 pagi. Lalu lintas tampak masih lengang. Tapi suasana di Kedai Kopi Apek sudah cukup ramai. Di ruangan berukuran 5m x 4m itu sudah ada sekitar 13 orang. Menariknya, mereka tampak saling kenal. Tiap ada yang datang, ada orang di dalam yang menyambut. Saya pun tampak semakin nyata sebagai pendatang. Dari beragam sumber bacaan, kedai kopi yang sudah buka sejak 1922 itu memang terkenal dengan tempat sosialisasi warga Medan, Sumatera Utara. Beragam suku, etnis, profesi dan agama tampak membaur seakan mewakili keragaman Kota Medan secara umum. Dan pagi itu saya merasakan sendiri keberagaman yang telah ditulis banyak orang. Kedai Kopi Apek tampak depan Ketika saya datang, sudah ada sekitar 6 orang yang tampaknya satu keluarga Tionghoa. Pemilik kedai sendiri
Mengenal Secara Sederhana, Apa Itu Kebijakan Makroprudensial
Kondisi ekonomi nasional saat ini baik, sehat, dan stabil. Namun demikian, dilihat dari kuadran ekonomi kita sedang berada di bawah. Artinya, ada pesimisme di dalam ekonomi sehingga sangat hati-hati dalam mengembangkan usaha atau menyalurkan kredit. "Menurut saya, ini saatnya LTV (loan to value) dilonggarkan untuk mendorong kredit sampai 3-4 tahun ke depan untuk mendorong perekonomian nasional," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Juda Agung, dalam kesempatan Nangkring Bersama Bank Indonesia Bertema Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta, 26 Juni 2019. Juda mengakui bahwa sejak beberapa tahun terakhir, pihaknya menyadari situasi ini dan telah mengambilkan kebijakan makroprudensial akomodatif setidaknya sampai 4 tahun ke depan. Langkah konkretnya adalah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM), melonggarkan LTV sejak 2015 setidaknya sampai 2018, meningkatkan Rasio
Milenial Ini Telah 3 Tahun Mengusung Budaya Indonesia di Cafenya
Siapa bilang milenial tidak bisa berbuat apapun untuk bangsa? Bahkan ada sebagian yang nyinyir kalau milenial hanya menjadi beban, kurang tough dan sukanya hura-hura. Dua anak milenial berikut ini, Kyle Kusumo (21) dan Kane Kusumo (19), membuktikan bahwa generasinya mampu mandiri bahkan memberi sumbangsih bagi Negara Indonesia. Kedua bersaudara kandung ini memilih bisnis cafe untuk belajar mandiri. Namun mereka tidak memilih cafe kekinian yang memboyong menu dan konsep western atau eastern ala Korea/ Jepang. Seakan melawan tren, mereka justru mengangkat "Bangga Indonesia" untuk mewarnai seluruh cafe yang diberi merek "Tantular Cafe." Tantular Cafe menempati tempat baru di alan Pesanggrahan No.10G, RT.2/RW.9, Kembangan Sel., Kec. Kembangan, Jakarta Barat. "Dinamai Tantular karena terinspirasi nama sastrawan legendaris Empu Tantular. Salah satu bukunya (mencantumkan konsep) Bhinneka
Dulu Takut, Sekarang Saya Ketagihan Berutang
Judul tulisan ini sepertinya boombastis, atau kerap disebut clickbait. Saya tegaskan, inilah yang terjadi pada saya. Percaya atau tidak, saya sendiri kerap geleng-geleng melihat perubahan sikap ini. Kata "Utang" menjadi momok tersendiri bagi saya. Sudah sejak lama saya meyakini bahwa utang adalah parasit dalam keuangan saya. Ketika sudah berkeluarga, keyakinan itu semakin kuat karena keuangannya tidak lagi bersifat pribadi. Oleh karena itu, mendengar "utang" saja, saya memilih untuk menutup telinga. Dari sisi eksternal, ada banyak kisah pilu yang dialami orang karena terlilit utang. Bahkan tidak sedikit karena utang, orang bisa melakukan tindak pembunuhan atau malah mengakhiri hidupnya. Cerita utang semakin seram terdengar. Dalam perjalanan waktu, sikap saya terhadap utang semakin melunak. Pada akhirnya, utang terpaksa menjadi pilihan ketika kebutuhan pokok saya bernilai tinggi.
Sejumput Asa Mempersatukan Indonesia dari Pesisir Utara Jawa
Indonesia sungguh istimewa dalam kacamata dunia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa dan tersebar di ribuan pula, membuat negara kita mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Keberagaman tersebut tidak pernah terkotak. Antarbudaya kita sendiri sudah terjalin interaksi, bahkan sejak awal kita telah membuka pintu terhadap peradaban dunia lewat perdagangan, penyebaran agama, dan lainnya. Keberagaman budaya sejatinya menjadi tulang punggung identitas bangsa. Bahkan saat dikelola dengan baik bisa menjadi penopang perekonomian dalam bidang pariwisata. Namun demikian, tak dipungkiri culture diversity yang telah diikat oleh Bhinneka Tunggal Ika ini, justru menjadi hal paling rentan. Selalu ada saja oknum yang ingin menceraiberaikan apa yang telah padu sejak awal mula. Baca Juga: Basilica Del Santo Nino: Simbol Katolisitas Dan Harapan Warga Filipina Potensi besar bangsa
Basilica del Santo Nino: Simbol Katolisitas dan Harapan Warga Filipina
Matahari terasa begitu terik. Debu beramburan disapu kendaraan melintas. Pejalan kaki semakin tersingkir, kepanasan dan menghirup berbagai polusi. Aroma kota pelabuhan semakin kental dengan kehadiran truk kontainer yang menjejal di jalanan yang padat. "Serasa di Tanjung Priok ya," gumamku dalam hati. Tapi ini bukan Priok, bukan pula di Indonesia. Ini adalah Cebu, sebuah kota di Filipina. Negara tetangga yang secara topografi memang tidak jauh berbeda dengan tanah air. Tantangan alam tersebut harus dilalui untuk mengunjungi destinasi wajib di Cebu. Tiap orang yang saya tanya, ada apa di Cebu, jawabannya sama,"Basilica del Santo Nino!" Kami, tentu masih bersama Sari, tidak memilih jalan mudah untuk pergi ke sana. Kami berangkat dari Mactan, pulau kecil di selatan Cebu, dengan menggunakan Jeepney, angkutan umum khas Filipina. Basilica Santo Nino tampak dari jalan raya,









